Saturday, November 11, 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. S DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI: LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT DI RUANG RB 4 ANAK RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2017

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur tim penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya tim penulis mampu menyelesaikan makalah ini dan melaksanakan terapi bermain tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan salah satu persyaratan menyelesaikan Program Pendidikan Keperawatan khususnya Departemen Keperawatan Anak, Program Studi Ners Universitas Sari Mutiara Indonesia.
Proposal terapi bermain Ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak dan Ibu:

1.      Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes, selaku Rektor Universitas Sari Mutiara Indonesia.
2.      Taruli Rohana Sinaga, SP, MKM, selaku Dekan Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia.
3.      Ns. Rinco Siregar, S.Kep, MNS, selaku Ketua Prodi Fakultas Studi Ners Universitas Sari Mutiara Indonesia.
4.      Ns. Jek Amidos Pardede, M.Kep, Sp.Kep. J selaku Kordinator Profesi Ners Universitas Sari Mutiara Indonesia
5.        Dr. Purnamawati, MARS selaku Direktur  SDM dan Pendidikan RSUP H. Adam Malik Kota Medan
6.    DR. Dr. Yusirwan , SpB, SpBA (K), MARS selaku Direktur RSUP H. Adam Malik Kota Medan
7.      Ns. Rut Diana, S.Kep, Selaku Kepala Ruangan Instalasi Rindu B4 Anak RSUP H. Adam Malik Medan.
8.      Ns. Hasidah, S.Kep, Selaku Clinikal Instruktur Ruangan Rindu B4 Anak RSUP H. Adam Malik Medan.
9.      Ns.Bunga Theresia Purba, S.Kep, M.Kep selaku Kordinator Stase Keperawatan Anak.
10.  Ns. Flora Sijabat, S.Kep, MNS, Selaku Preseptor Akademik Stase Keperawatan Anak yang telah memberikan bimbingan berupa saran dan kritik pada penulisan asuhan keperawatan pada an. S.
11.  Seluruh staf dosen/ pegawai Universitas Sari Mutiara Indonesia yang telah banyak memberikan dukungan dalam penulisan proposal ini.
12.  Rekan-Rekan Kelompok 3 dari Universitas Sari Mutiara IndonesiaYang Telah Memberikan Dukungan Dan Partisipasinya Selama penyelesaian askep pada an. S.
Penulis mengharapkan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan proposal terapi bermain pada anak ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, April  2017


Penulis



 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang................................................................................................... 1
1.2.  Rumusan Masalah .................................................................................... ....... 3
1.3. Tujuan Laporan Kasus...................................................................................... 3
1.4 . Manfaat Laporan Kasus .......................................................................... ....... 4
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A.     TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 6
1.      Pengertian Leukemia............................................................................... 6
2.      Anatomi Fisiologis.................................................................................. 6
3.      Etiologi ................................................................................................ 10
4.      Klasifikasi ............................................................................................ 11
5.      Insiden................................................................................................. 12
6.      Manifestasi Klinik................................................................................. 13
7.      Patofisiologi.......................................................................................... 13
8.      Komplikasi .................................................................................... ..... 14
9.      Pemeriksaan Diagnostik ................................................................. ..... 15
10.  Penatalaksaan Medis ...................................................................... ..... 16
B.     LandasanTeoritisKeperawatan............................................................... 18
1.      Pengkajian........................................................................................... 18
2.      Diagnosa Keperawatan......................................................................... 19
3.      Intervensi Keperawatan........................................................................ 21
4.      Implementasi .................................................................................. ..... 31
5.      Evaluasi ......................................................................................... ..... 31    


       BAB III TINJAUAN KASUS ........................................................................... 32
A.     Pengkajian............................................................................................. 32
B.     DiagnosaKeperawatan........................................................................... 43
C.     Intervensi ........................................................................................ ..... 44
D.     Implementasi dan Evaluasi ............................................................... ..... 48
        BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................. 51
        BAB V KESIMPULAN............................................................................... ..... 54
        DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Leukemia limfositik akut atau biasa disebut LLA merupakan bentuk umum kanker pada anak-anak dibawah usia 15 tahun dengan mayoritas tertinggi pada anak usia 2-5 tahun. Jenis penyakit kanker dare sel darah putiih ini akan tumbuh cepat agresif serta membutuhkan perawatan segera (Howlader, 2012). Leukemia adalah sekumpulan penyakit yang ditandai oleh adanya akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang dan darah (Hoffbrand, Pettit & Moss, 2005). Leukemia merupakan kanker pada jaringan pembuluh darah yang paling umum ditemukan pada anak (Hockenberry, Wilson, 2009). Leukemia yang terjadipada umumnya leukemia akut, yaitu Acute Limfoblastic Leukemia(ALL) dan Acute Mieloblastic Leukemia(AML). Lebihkurang80% leukemia akut pada anak adalah ALL dan sisanya sebagian besar AML Alpres, ann (2006)

Data dari National Cancer Institute (2013) menyatakan total insiden kejadian kanker per 100. 000 penduduk adalah leukemia (12,8%), limfoma, (19,7%) dan myeloma (5,9%). Data tersebut telah mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012, yaitu leukemia naik 0,3%; lymphoma dan myeloma naik 0,1%. Angka kejadian kanker di Amerika Serikat Setiap tahun mengalami peningkatan sekitar 35-40 kasus persatu juta penduduk. Kasus LLA di Amerika pada tahun 2013 ditemukan sebanyak 36 kasus (ward et all, 2014). Data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2010 , menyatakan di Indonesia kanker menjadi penyebab kematian nomor tiga dan kasus leukemia mencapai 10,4% (Depkes, RI 2011). 

Data dari RISKESDAS (2013) prevalensi kejadian kanker wilayah Jawa Tengah sebesar 2,1 %, Yayasan Onkologi Anak Indonesia (2012) menyatakan sebanyak 30% sampai dengan 40% dari insiden kanker pada anak merupakan penderita leukemia atau kanker darah yaitu anak yang telah terdiagnosis penyakit leukemia limfoblasti akut (LLA) membutuhkan proses pengobatan yang lama (minimal 2 tahun), rutin, dan teratur serta berisiko untuk relaps. Orang tua yang memiliki anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA) akan mengalami perubahan hidup dan penyesuaian diri dalam merawat anak saat pengobatan. Studi yang dilakukan oleh Permono (2012) menyatakan bahwa keluarga yang memiliki anak dengan LLA menimbulkan permasalahan yang besar bagi orang tua, karena ancaman hidup anak ada didepan mata. Penanangan secara suportif dan kuratif merupakan terapi yang diperlukan pada pasien dengan kanker, salah satunya adalah kemoterapi.

Kemoterapi adalah salah satu terapi pengobatan kanker yang menjadi  pilihan pertama bagi pasien. Menurut Frost (2002) bahwa kemoterapi dapat  membunuh sel kanker  sebesar 50%. Terapi  pengobatan  kemoterapi pada   penyakit kanker  menggunakan obat-obat kimia  disetiap tahapan (induksi,  konsolidasi, dan pemeliharaan)  (Smeltzer,  et al.,  2008). Kemoterapi pada
pasien  kanker membutuhkan waktu  lama, berulang, menimbulkan  ketidaknyamanan anak, serta menimbulkan efek samping berupa muntah, kebotakan, stomatitis, konstipasi, diare, neuropati, fatigue dan nyeri (Imbach  et al, 2006).  Pemantauan respon anak terhadap efek samping kemoterapi  perlu diperhatikan dan dipahami oleh orang tua selama merawat anak LLA di rumah. 

Perawatan di rumah merupakan perawatan lanjutan terpenting bagi  anak yang menjalani kemoterapi, sehingga perlu disampaikan ke  orang tua 3 cara penanganan yang    tepat (McMillan,  et  al., 2001).  Orang tua atau keluarga memiliki peran penting dalam merawat anak yang sakit ketika di  rumah. Family Centered Care  (FCC) atau perawatan berpusat pada keluarga  merupakan prinsip penting dalam asuhan keperawatan khususnya pada anak. Perawatan  berpusat  pada keluarga  merupakan perawatan yang melibatkan keluarga dalam melakukan tindakan keperawatan  (Wong, 2009).   Orang tua dengan anak LLA perlu dilibatkan dan dioptimalkan perannya dalam masa pengobatan.  Penelitian Holm,  et al  (2003) tentang studi kualitatif tentang keterlibatan orang tua dengan  family centerd care pada anak dengan kanker,  menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam pengobatan anak dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kebutuhan anak akan terpenuhi.  Pemberdayaan keluarga dalam menjalankan perawatan yang berpusat pada keluarga dapat berjalan optimal apabila keluarga mengetahui cara perawatan  anak di rumah sakit atau di rumah. Kebutuhan keluarga yang diperlukan  untuk mengoptimalkan perawatan anak sakit adalah edukasi. 

Edukasi merupakan salah satu aspek penting dari peran perawat sebagai edukator selama memberikan asuhan keperawatan pada anak. Edukasi sebagai intervensi keperawatan mandiri dapat direncanakan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam perawatan anak. Pendidikan kesehatan yang diberikan pada keluarga terhadap risiko infeksi yang timbul selama perawatan diwujudkan sebagai penanggulangan kanker terpadu pada anak dengan LLA (Kemenkes RI, 2014).  Sehingga pengetahuan akan penyakit dan keterlibatan orang tua diharapakan dapat meningkatkan 4 pemahaman dan keyakinan diri orang tua  dalam merawat anak yang sakit,  khususnya pada anak dengan LLA.

Edukasi yang diberikan kepada orang tua dengan anak LLA akan  lebih efektif jika diberikan dengan menggunakan pendekatan teori pembelajaran.  Teori ini menjelaskan tentang proses pembelajaran dan motivasi peserta didik. Faktor person merupakan salah satu faktor dalam teori  pembelajaran yang dipengaruhi oleh pengalaman penguasaan tindakan, pengalaman permodelan, persuasi verbal, dan kondisi fisik-emosional. Edukasi yang dilakukan dengan pendekatan terhadap sumber-sumber tersebut diharapakan dapat meningkatkan  efikasi diri, khususnya pada orang tua sehingga dapat merawat anak dengan baik.  Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya, sehingga dapat menjalankan tugas atau tindakan  untuk mencapai hasil tertentu (Bandura, 2004). 

Bardasarkandata yang diperoleh dari Rekam medik RSUP H. Adam Malik Medan Terdapat data Leukemia Akut pada anak sebesar 478 kasus yaitu 188 kasus pada tahun 2015 dan 206  kasus pada tahun 2016 dan selama tahun 2017 ini terdapat 84 kasus. Dari data diatas sehingga kelompok ingin mengangkat kasus leukemia dimana kasus leukemia merupakan  salah satu penyakit tertinggi yang terjadi pada anak di RSUP H. Adam Malik Medan.


1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan Keperawatan  pada An. S  dengan  gangguan  sistem hematologi:  Leukimia  Limfoblastik Akut di ruang 3.0 RB 4 Anak RSUP H. Adam Malik Medan?

1.3  Tujuan Laporan Kasus
1.3.1.  Tujuan Umum
Memberikan pengalaman yang nyata kepada kelompok untuk mengetahui cara perawatan dan penanganan pada pasien anak dengan masalah Leukimia Limfoblastik Akut dengan benar.

1.3.2.  Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari karya tulis ilmiah ini adalah penulis dapat:
a. Melakukan pengkajian pada klien An. S dengan masalah Leukimi Limfoblastik Akut.
b. Menegakkan perumusan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien An. S dengan Leukimia Limfoblastik Akut.
c. Menyusun intervensi keperawatan pada klien An. S dengan Leukimia Limfoblastik Akut.
d.Melakukan implementasi keperawatan pada  An. S dengan Leukimia Limfoblastik Akut.
e.  Melakukan  evaluasi pada An. S dengan Leukimia Limfoblastik Akut.

1.4.  Manfaat Laporan Kasus
1.4.1.  Bagi  Kelompok  
Menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam mengkaji permasalahan tentang  Leukimia Limfoblastik Akut serta memberikan asuhan keperawatan pada An. S dengan Leukimia Limfoblastik Akut.

1.4.2.  Bagi pasien dan keluarga.
Memberikan support sosial kepada pasien, keluarga memahami  tentang penyakit serta perawatan pada keluarga yang mengalami  Leukimia Limfoblastik Akut.
1.4.3.  Bagi Institusi Akademik
Memberikan  informasi sebagai bahan pertimbangan atau acuan untuk penelitian lebih lanjut serta peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang.

1.4.4.  Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan wacana untuk meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan pada pasien anak dengan masalah Leukimia Limfoblastik Akut, agar derajat kesehatan pasien meningkat.

1.4.5.  Bagi Pembaca
Pembaca dapat memahami tentang penatalaksanaan dan perawatan klien anak dengan
masalah leukimia limfoblastik akut.


 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    KONSEP LEUKEMIA
1.    PENGERTIAN
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentukan dalam sumsum tulang dan linfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang,menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi di hati,limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis,seperti meninges, traktur gastrointestinal, ginjal dan kulit.
Akut Leukimia limpositik akut adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa poliferasi patologis sel hemopeotik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh lainnya.(Arif Mansjoer, 2000: 495)

2.    ANATOMI FISIOLOGIS
Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa  terdapat darah sebanyak kira-kira 1/13 dari berat badan atau kira-kira 4 sampai 5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada tiap organ0organ tidak sama tergantung pada umur, pekerjaan, keadaan jatung atau pembuluh darah.
            Fungsi darah terdiri atas:
a.    Sebagai alat pengangkut
b.    Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang akan membunuh tubuh dengan perantaraan leukosit, anti bodi / zat-zat anti racuN
c.    Menyebarkan panas ke seluruh tubuh
                  Bagian-bagian darah:
a.       Air        :  91%
b.      Protein :  8% (albumin, globulin, protombi dan fibrinogen)
c.       MineraL  :     0,9% (Natrium Klorida, Natrium Bikarbonat, Garam, Posphatt,   Magnesium dan Asam Amino)

Darah terdiri dari 2 bagian yaitu:
a.    Sel darah ada 3 macam yaitu:
1)        Eritrosit (sel darah merah)
2)         Leukosit (sel darah putih)
3)        Trombosit (sel pembeku darah)
b.    Plasma darah

1)        Eritrosit
Ialah bentuknya seperti cakram / bikonkap dan tidak mempunyai inti. Ukurannya kira-kira 7,7 unit (0,007 mm) diameter tidak dapat bergerak. Banyaknya kira-kira 5 juta dalam 1 mm3 (4 ½ - 4 juta). Warnanya kuning kemerah-merahan, karena di dalamnya mengandug suatu zat yang disebut hemoglobin. Warna ini akan bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung O2 (Price, 2002).

Fungsinya mengikat O2 dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat CO2 dari jaringan tubuh dikeluarkan melalui paru-paru. Jumlah eritrosit normal pada orang dewasa kira-kira 11,5 – 15 gram dalam 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan Hb laki-laki 13,0%. Di dalam tubuh banyaknya sel darah merah ini bisa berkurang, demikian juga banyaknya hemoglobin dalam sel darah merah. Apabila keduanya berkurang maka keadaan ini disebut anemia, yang biasanya hal ini disebabkan oleh karena pendarahan yang hebat, hama-hama penyakit yang menghanyutkan eritrosit dan tempat pembuatan eritrosit sendiri terganggu (Price, 2002)..

2)        Leukosit
Ialah keadaan bentuk dan sifat-sifat leukosit berlainan dengan eritrosit dan apabila kita periksa dan kita lihat bahwa di bawah mikroskop maka akan terlihat bentuknya yang dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu (pseudopodia), mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya. Warnanya bening (tidak berwarna), banyaknya dalam 1 mm3 kira-kira 6.000 sampai 9.000 (Price, 2002).

            Fungsinya:
a)    Sebagai serdadu tubuh yaitu, membunuh dan memakan bibit penyakit / bakteri yang masuk ke dalam tubuh jaringan RES (System Retikulo Endotel), tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe (Price, 2002).
b)   Sebagai pengangkut yaitu, mengangkut / membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa uterus ke pembuluh darah.
Hal ini disebabkan sel leukosit yang biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe, sekarang beredar di dalam darah untuk mempertahankan tubuh terhadap serangan bibit penyakit tersebut. Jika jumlah leukosit dalam darah melebihi 10.000/mm3 disebut leukotosis dan kurang 5.000 / mm3 leukopenia (Price, 2002).

    Macam-macam leukosit meliputi:
 1. Agranulosit
          Sel leukosit yang tidak mempunyai granula di dalamnya, yang terdiri dari:
                  a.  Limfosit
Macam leukosit yang dihasilkan dari jaringan RES dan kelenjar limfe, bentuknya ada yang besar dan ada yang kecil, di dalam sitoplasmanya tidak terdapat granula dan intinya besar, banyaknya 20 – 25% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk ke dalam jaringan tubuh (Price, 2002).

b. Monosit
                                        Terbanyak dibuat di sum-sum tulang merah, besarnya lebih besar dari limfosit, fungsinya sebagai fagosit dan banyaknya 38%.

                                        Di bawah mikroskop terlihat bahwa protoplasmanya lebar, warnanya biru sedikit abu-abu, mempunyai bintik-bintik sedikit kemerah-merahan. Inti selnya bulat dan panjang warnanya lembayung muda (Price, 2002).

           2. Granulosit
            Disebut juga leukosit granular terdiri dari:
a.       Neutrofil atau pulmor nuclear leukosit, mempunyai inti sel yang berangkai kadang-kadang seperti terpisahpisah, protoplasmanya banyak bintik-bintik halus / granula, banyaknya 60 – 70%
b.      Eosinofil, ukuran dan bentuknya hampir sama dengan netrofil tetapi granula dalam sitoplasmanya lebih besar, banyaknya kira-kira 2 – 4%
c.       Basofil, sel inti kecil dan pada eosinifil tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur, di dalam protoplasmanya terdapat granula-granula besar. Banyaknya ½ %. Dibuat di sum-sum merah, fungsinya tidak diketahui.
d.      Trombosit ialah merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat, ada yang lonjong, warnanya putih, banyaknya normal pada orang dewasa 200.000 – 300.000 mm3(Price, 2002).
Fungsinya memegang peranan penting di dalam pembekuan darah. Jika banyaknya kurang dari normal, maka kalau ada luka darah tidak lekas membeku sehingga timbul pendarahan yang terus-menerus. Trombosit lebih dari 300.000 disebut trombositosis. Trombosit yang kurang dari 200.000 disebut trombositopenia.
Terjadinya pembekuan darah di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah yaitu Ca2+ dan fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh medapat luka (Price, 2002).

Hemoglobin ialah protein yang kaya akan zat besi. Jumlah hemoglobin dalam darah normal ialah kira-kira 15 gram setiap ml darah, dan ini jumlahnya biasa disebut 100 persen.
Plasma darah ialah bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah, warnanya bening kekuning-kuningan. Hampir 90% dari plasma darah terdiri dari air, disamping itu terdapat pula zat-zat lain yang terlarut di dalamnya.
Zat-zat yang terdapat dalam plasma darah:
a.       Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah.
b.      Garam-garam mineral (garam kalsium, kalium, natrium dan lain-lain) yang berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotil
c.       Protein darah (albumin, globulin) meninggalkan viskositosis darah dan juga menimbukan tekanan osmotic untuk memelihara keseimbangan cairan dalam tubuh.
d.      Zat makanan (asam amino, glukosa, mineral dan vitamin)
e.       Hormon yaitu suatu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh
f.       Anti bodi / anti toksin (Drs. Syaifuddin, B. Ac, 1992: 70)

3.      ETIOLOGI
Penyebab yang pasti belum diketahui akan tetapi terdapat factor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :
a.       Neoplasia
Ada persamaan jelas antara leukemia dan penyakit neoplastik lain,  misalnya proliferasi sel yang tidak terkendali, abnormalitas morfologis sel dan infiltrasi organ. Lebih dari itu kelainan sum-sum kronis lain dapat berubah bentuk akhirnya menjadi leukemia akut, misalnya polisefemia vera, mielosklerosis atau anemia aplastik (Elizabeth, 1996).
b.      Infeksi
Leukemia pada tikus dan unggas dapat ditransnamsi oleh filtrate bebas sel. Partikel virus dapat ditunjukkan dengan mikroskop elektron. Pada manusia terdapat bukti kuat untuk etiologi baik pada satu jenis leukemia / limfoma sel T dan pada limfoma burkit (Elizabeth, 1996).
c.       Radasi
Radiasi ionisasi: lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya.
Radiasi khususnya sum-sum tulang bersifat leukomogenik. Terdapat insiden leukemia tinggi pada orang yang tetap hidup. Setelah bom atom di Jepang, pada pasien ankylosing pandylitis yang telah menerima penyinaran sporal dan pada anak-anak yang ibunya menerima sinar x abdomen selama hamil.
d.      Keturunan
Factor genetic : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (T-cell leukemia –lymphoma virus/HTLV)).

Ada laporan beberapa kasus yang terjadi pada satu keluarga dan pada kembar identik ada insiden yang meningkat pada beberapa penyakit kerediter, khususnya sindroma down (dimana leukemia terjadi dengan peningkatan frekuensi 20 – 30 kali lipat) anemia panca sindroma down dan ataksia – talangiektasia (Elizabeth, 1996).
e.       Zat kimia
Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.
Terkena bensin kronis yang dapat menyebabkan displasma sum-sum tulang dan perubahan kromosom, merupakan penyebab leukemia yang tidak biasa.
f.       Perubahan kromosom
Kelainan kromosom: Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), Sindrom fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia  (A. V. Hoffbrand MA Fracp FRC Path, 1979: 127)
g.      Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
h.      Factor herediter misalnya pada kembar monozigot

4.      KLASIFIKASI
a.       Leukemia Miogenus Akut
AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena, insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
b.      Leukemia Mielogenus Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa,limpa membesar.
c.        Leukemia Limfositik Akut
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
d.      Leukemia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain (Elizabeth, 1996).

5.      INSIDEN
ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate) rata-rata yang juga lebih rendah.. ANLL (Acute Non-Lymphoid Leukemia) mencakup 15% sampai 25% kasus leukemia pada anak. Resiko terkena penyakit ini meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti Sindrom Down. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi 70%). Remisinya lebih singkat pada anak-anak dengan ALL. Lima puluh persen anak yang mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi berkepanjangan (Elizabeth, 1996).


6.      MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut (Smeltzer, 2001):
a.       Aktivitas ; kelelahan,kelemahan, malaise, kelelahan otot.
b.      Sirkulasi: palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat
c.       Eliminsi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin.
d.      Integritas ego: perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.
e.       Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia.
f.       Neurosensori: penurunan koordinasi, disorientasi, pusing, kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
g.      Nyeri: nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisah.
h.      Pernafasan: nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas.
i.        Keamanan: gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.
j.        Seksualitas: perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia.

7.      PATOFISIOLOGI
Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang maligna, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia. Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi. Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yangt akan berdampak pada penurunan leukosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan. Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri persendian (Smeltzer,2001).

8.      KOMPLIKASI
Penyakit leukemia dapat menyebabkan berbagai komplikasi, diantaranya yaitu (Price, 2002):
a.    Kelelahan (fatigue). Jika leukosit yang abnormal menekan sel-sel darah merah, maka anemia dapat terjadi. Kelelahan merupakan akibat dari kedaan anemia tersebut. Proses terapi Leukemia juga dapat meyebabkan penurunan jumlah sel darah merah.
b.    Pendarahan (bleeding). Penurunan jumlah trombosit dalam darah (trombositopenia) pada keadaan Leukemia dapat mengganggu proses hemostasis. Keadaan ini dapat menyebabkan pasien mengalami epistaksis, pendarahan dari gusi, ptechiae, dan hematom.
c.    Rasa sakit (pain). Rasa sakit pada leukemia dapat timbul dari tulang atau sendi. Keadaan ini disebabkan oleh ekspansi sum-sum tulang dengan leukosit abnormal yang berkembang pesat.
d.   Pembesaran Limpa (splenomegali). Kelebihan sel-sel darah yang diproduksi saat keadaan leukemia sebagian berakumulasi di limpa. Hal ini menyebabkan limpa bertambah besar, bahkan beresiko untuk pecah.
e.    Stroke atau clotting yang berlebihan (excess clotting). Beberapa pasien dengan kasus leukemia memproduksi trombosit secara berlebihan. Jika tidak dikendalikan, kadar trombosit yang berlebihan dalam darah (trombositosis) dapat menyebabkan clot yang abnormal dan mengakibatkan stroke.
f.     Infeksi. Leukosit yang diproduksi saat keadaan leukemia adalah abnormal, tidak menjalankan fungsi imun yang seharusnya. Hal ini menyebabkan pasien menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu pengobatan leukemia  juga dapat menurunkan kadar leukosit hingga terlalu rendah, sehingga sistem imun tidak efektif.
g.    Kematian.

9.      PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.       Hitung darah lengkap complete blood cell (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki memiliki prognosis paling baik; jumlah lekosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur. Biasanya menunjukkan normositik, anemia normositik.
b.      Hemoglobulin: dapat kurang dari 10 gr/100ml.
c.       Retikulosit : jumlah biasaya rendah.
d.      Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm).
e.       Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan susunan saraf pusat
f.       Foto toraks untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum
g.      Aspirasi sumsum tulang. Ditemukannya 25% sel blas memperkuat diagnosis.
h.      Pemindaian tulang atau survei kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang.
i.        Pemindaian ginjal, hati, limpa untuk mengkaji infiltrat leukemik.
j.        Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan

10.   PENATALAKSANAAN MEDIS
a)      Program terapi
Pengobatan terutama ditunjukkan untuk 2 hal (Netty Tejawinata, 1996) yaitu:
1)      Memperbaiki keadaan umum dengan tindakan:
a)      Tranfusi sel darah merah padat (Pocket Red Cell-PRC) untuk mengatasi anemi. Apabila terjadi perdarahan hebat dan jumlah trombosit kurang dari 10.000/mm³, maka diperlukan transfusi trombosit.
b)       Pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi.
2)      Pengobatan spesifik
Terutama ditunjukkan untuk mengatasi sel-sel yang abnormal. Pelaksanaannya tergantung pada kebijaksanaan masing-masing rumah sakit, tetapi prinsip dasar pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
a)         Induksi untuk mencapai remisi: obat yang diberikan untuk mengatasi kanker sering disebut sitostatika (kemoterapi). Obat diberikan secara kombinasi dengan maksud untuk mengurangi sel-sel blastosit sampai 5% baik secara sistemik maupun intratekal sehingga dapat mengurangi gejala-gajala yang tampak.
b)        Intensifikasi, yaitu pengobatan secara intensif agar sel-sel yang tersisa tidak memperbanyak diri lagi.
c)         Mencegah penyebaran sel-sel abnormal ke sistem saraf pusat
d)        Terapi rumatan (pemeliharaan) dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi
3)      Pengobatan imunologik
a)         Bertujuan untuk menghilangkan sel leukemia yang ada di dalam tubuh agar pasien dapat sembuh sempurna. Pengobatan seluruhnya dihentikan setelah 3 tahun remisi terus menerus.
4)      Iradiasi cranial
5)      Terdapat tiga fase pelaksanaan kemoterapi:
                          I.            Fase induksi
Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin (antineoplastik), dan L-asparaginase (menurunkan kadar asparagin; asam amino untuk pertumbuhan tumor). Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5% (Price, 2002).
                       II.            Fase profilaksis sistem saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocotison melalui intrathecal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat (Price, 2002).
                    III.            Fase konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi (Price, 2002).


B. KONSEP DASAR ASKEP
1.      PENGKAJIAN
a.    Data biografi pasien
Leukemia banyak menyerang laki-laki dari pada wanita dan menyerang pada usia lebih dari 20 tahun khususnya pada orang dewasa.
b.    Riwayat Kesehatan
1)      Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada penyakit leukemia ini klien biasanya lemah, lelah, wajah terlihat pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat.
2)      Riwayat penyakit
Pada riwayat penyakit klien dengan leukemia, kaji adanya tanda-tanda anemia yaitu pucat, kelemahan, sesak, nafas cepat. Kaji adanya tanda-tanda leucopenia yaitu demam dan adanya infeksi. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia yaitu ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola yaitu limfadenopati, hepatomegali, splenomegali. Kaji adanya pembesaran testis. Kaji adanya hematuria, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi disekitar rectal, nyeri   
( Lawrence, 2003).
3)      Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot.
4)      Riwayat kebiasaan sehari-hari
Perbedaan pola aktivitas dirumah dan dirumah sakit.
5)      Riwayat psikososial
a.    Psikologi
Pada kasus ini biasanya klien dan keluarga takut dan cemas terhadap penyakit yang diderita. Klien sangat membutukan dukungan dari keluarga dan perawat.
b.    Sosial Ekonomi
Klien mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga maupun dengan tetangga disekitar rumahnya dengan adanya keluarga dan tetangga yang membesuk serta klien hidup dalam keadaan ekonomi yang sederhana.
6)      Data penunjang
Data laboratorium pada klien dengan leukemia :
Ø Anemi normokrom normositer
Ø Leukosit >15.000/mm3 (5000-10000/ mm3)
Ø Sitogenik : kelainan pada kromosom 12, 13, 14, kadang-kadang pada kromosom 6, 11
Ø Hb                 : 7,3  mg / dl ( N : 12.0 – 16.0 g/dL).
Ø Trombosit      : 100.000 (150.000-400.000/mm3)
Ø SDP : 60.000/cm (50.000)
Ø PT/PTT : memanjang
Ø Copper serum : meningkat
Ø  Zink serum : menurun 
7)     Penatalaksanaan
Terapi dan obat yang diberikan pada klien dengan leukemia :
Ø Transfusi bila perlu
Ø Klorambusil

2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1)   Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2)    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
3)   Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
4)   Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
5)   Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi
6)   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
7)   Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
8)   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas.
9)   Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan.
10)    Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia (Simon, 2003).

BAB III
TINJAUAN KASUS

A.      PENGKAJIAN
1.      Identitas Anak
Nama                         : An. S
Anak ke                     :  II (Dua)
Umur                         : 1 tahun 11 bulan
Tanggal Masuk RS    : 13 Maret 2017
Tanggal Pengkajian   : 28 Maret 2017
Diagnosa Medis        : Leukimia Akut

2.      Identitas Orang Tua
Nama Ayah               : Tn. M
Umur                         : Tahun
Pekerjaan                   : Tukang Becak
Pendidikan Terakhir : SD
Suku/Bangsa             : Batak
Alamat                       : Jln. Aek kanopan no 12 Sidikalang

3.      Kedudukan Anak Dalam Keluarga Dan Kedudukan Anak Sekarang
Kehamilan
Abortus
Lahir Mati
Lahir Hidup
Jenis Kelamin
Keadaan Sekarang
Sakit
Mati
Sebab Mati
I
-
-
ü   
L
-
-
-
II
-
-
ü   
L
ü  
-
-

4.      Alasan Dirawat
a.       Keluhan Utama                            : Perut besar,susah BAB, demam tinggi
b.      Penyebab                                      : Trombosit turun dan harus transfusi darah
c.       .Keluhan utama saat pengkajian  : BB turun dari 11,8 kg menjadi 8 kg

5.      Riwayat Masa Lampau
a.       Penyakit yang pernah diderita    : sakit perut,diare,dan demam
b.      Alergi                                          : tidak ada alergi makanan
c.       Kecelakaan                                  : -
d.      Imunisasi                                     :Lengkap
e.       Tindakan yang dilakukan            :-
f.       Pernah dirawat                            :Pasien baru pertama kali di rawat





1)        Prenatal Care
a.    Ibu memeriksakan kehamilannya setiap minggu di klinik aek kanopan
          Keluhan selama hamil yang dirasakan oleh ibu, pusing, mual, muntah, dan lemas saja, dan oleh bidan dianjurkan mengkomsumsi. (Paracetamol, Dexanta, Vitamin B12, dan Metoclopamide 3 x1 setelah makan.)
b.    Riwayat Terkena Radiasi        :  tidak pernah terkena radiasi
c.    Riwayat Berat Badan Ibu Selama Hamil : 62 Kg
d.   Riwayat Imunisasi TT            : 2 x Imunisasi TT  (Tetanus Toxoid) diberikan pada usia kehamilan Trisemester I setelah tes kehamilan positif dan 8 minggu setelah pemberian pertama.
e.    Golongan darah ibu                  : O Golongan Darah Ayah : O

2)        Natal
a.    Tempat Melahirkan                : di Klinik Bidan Aek Kanopan
b.    Jenis Persalinan                      : Normal
c.    Penolong Bersalin                  : Bidan Delima
d.   Komplikasi Yang dialami Ibu saat persalinan dan setelah melahirkan : tidak ada

3)        Post Natal
a.    Kondisi Bayi : APGAR
No
Tgl
Karakteristik Penilaian
Menit 1
Menit 5
1.
12/05/2016
Warna kulit
2
2
2.
Denyut Jantung
2
2
3.
Refleks
1
2
4.
Tonus otot
1
2
5.
Pernafasan
2
2
Total
8
10
Kesimpulan: Bayi normal tidak mengalami asfiksia.

b. Anak pada saat lahit tidak mengalami : Asfiksia,
   Untuk Semua Usia :
1)   Klien pernah mengalami penyakit : Demam, flu, dan diare pada umur 6 bulan dan diberikan obat oleh bidan setempat,
2)   Riwayat kecelakaan : tidak pernah mengalami kecelakaan
3)   Riwayat mengkomsumsi obat obatan yang berbahay tanpa anjuran dokter dan menggunakan zat/subtansi kimia yang berbahaya:  tidak pernah mengkomsumsi obat obatan tanpa anjuran dari petugas kesehatan.
4)   Perkembangan anak dibandingkan saudara saudarnya : anak berkembang sama seperti saudaranya namun bedanya anak hanya lebih sering terkena demam pada saat masih dibawah 1 tahun, riwayat kejang tidak ada.

GENOGRAM
      
 



                   
                      
 







: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
.........   : Tinggal Serumah








5)   Riwayat Imunisasi lengkap

No
Jenis Imunisasi
Frekuensi
Dosis Pemberian
Reaksi Setelah Pemberian
Frekuensi
Waktu Pemberian Usia Ke
1
HB0
1x
0,5 cc
Rewel, Badan hangat
± 2 hari
< 1 Bulan ,  3 hari

2
BCG
1x
0,05ml + 4ml NaCl 0,9%
Demam, Berbekas di lengan seperti ulkus
± 2 hari, Bekas luka tidak hilang
1 Bulan 2 Minggu

3
DPT (I, II, III)
1x
0,5ml
Demam, Bengkak pada bagian suntikan, rewel dan terlihat kelelahan
± 2 hari
1 Bulan 3 Minggu

4
Polio ( I, II, III, IV)
1x
2 tetes
1cc/2cc
Demam, Berbekas pada daerah suntikan
± 1 Hari
2, 3,4 dan 5 Bulan

5
Campak
1x
0,5 ml
Demam
± 3 hari
10 Bulan

6
Hepatitis
1x
0,5 ml
Sakit dan bengkat di daerah penyuntikan
± 2 hari
6 Bulan

                           
6) Riwayat Tumbuh Kembang
a)    Pertumbuhan Fisik
                                                                          i.       Berat Badan : 8 Kg
                                                                        ii.       Tinggi Badan: 82 Cm
                                                                      iii.       Waktu Tumbuh Gigi : 8 Bulan tumbuh gigi, awalnya gigi seri tengah, gigi seri taring, gigi taring, gigi geraham I dan gigi geraham II. Jumlah gigi saat ini 18 Buah gigi.
b)    Perkembangan Tiap Tahap
                                                                          i.   Mengangkat kepala                                     : 3 Bulan 90o
                                                                        ii.   Berguling                                                    : 5 Bulan
                                                                      iii.   Duduk                                                         : 6 Bulan
                                                                      iv.   Merangkak                                                  : 7 Bulan
                                                                        v.   Berdiri                                                         : 9 Bulan
                                                                      vi.   Berjalan                                                       : 11 Bulan
                                                                    vii.   Senyum Pertama Sekali Kepada orang lain: 1 Bulan
                                                                  viii.   Bicara pertama sekali                      : 8 Bulan tahu menyebutkan mama.
                                                                      ix.   Berpakaian tanpa Bantuan              :-

7)  Riwayat Nutrisi
a)    Pemberian ASI
Klien minum hanya minum ASI hingga Usia 6 Bulan dan bulan ke 7 sudah mendapatkan susu tambahan.

b)   Pemberian Susu Formula
                                                                        i.     Alasan Pemberian  :  orangtua mengatakan bahwa anaknya masih rewel meskipun sudah diberikan ASI.
                                                                      ii.     Jumlah Pemberian : 50cc/Permberian
                                                                    iii.     Cara Pemberian      : diberikan melalui dodot



USIA
Jenis Nutrisi
Lama Pemberian
0-6 Bulan
ASI
6 Bulan
6-12 Bulan
ASI, Vit A, Vit D, Vit B1, Vit B2,
6 Bulan
12 -15 Bulan
ASI, Vit A, Vit D, Vit B1, Vit B2, Asam Folat, Zink,  Natrium
3 Bulan
15-18 Bulan
ASI, Vit A, Vit D, Vit B1, Vit B2, Vit B3, Asam Folat, Zink,  Natrium, Cemilan Ringan
3 Bulan
18-23 Bulan
ASI, Vit A, Vit D, Vit B1, Vit B2, Vit B3 Asam Folat, Zink,  Natrium, Cemilan Ringan
5 Bulan

 Ket :
Kebutuhan Nutrisi Harian Anak Usia 1-3 Tahun (1000 Kal)
Nutrisi
Kebutuhan/Hari
Setara Dengan
Vit A
400 ug
Wortel (50 Gram)
Vit D
200IU
Susu (470 Ml atau 2 Cangkir)
Vit K
15 ug
2 Tangkai Asparagus (20 Gram)
Vit B1
(Thiamin)
0,5 mg
Kentang Rebus (150 Gram)
Vit B2
(Riboflavi)
05 mg
Telur Rebus (55 Gram)
Vit B3
 (Niacin)
6 mg
Dada Ayam (50 Gram)
Vit B6
(Piridoksin)
0,5 ug
Filet Salmon (90 Gram)
Vit B12
0,9 ug
1 Butir Telur Rebus
Asam Folat
150 ug
3 Kuntum Brokoli (35 Gram)
Kalsium
500 mg
Susu (290 Ml)
Magnesium
60 mg
1 Mangkok Buah Labu (245 Gram)
Zat Besi
8 mg
Daging Sapi (170 Gram)
Zink
7 mg
Kacang tanah (100 Gram)
Selenium
17 ug
Tuna (20 Gram)
Natrium
0,8 g
Garam  (½ Sendok teh )

6.      Riwayat Sosial
a.       Yang mengasuh                          : Orang tua
b.      Hubungan dengan Keluarga       : Baik
c.       Hubungan dengan ayah              : Baik
d.      Hubungan dengan ibu                 : Baik
e.       Tingkah laku anak di RS             : Tenang, kooperatif saat di ajak berkomunikasi oleh                                          perawat
f.       Lingkungan Rumah                    : Lokasi tempat tinggal berada di pinggir jalan yang rentan akan debu dan polusi
7.      Riwayat Kesehatan Orang Tua
1.      Orang tua                                    : Orang tua tidak memiliki penyakit keturunan
2.      Saudara Kandung                         : Saat lahir saudara kandung tidak ada yang lahir dengan BBLR dan kecacatan
3.      Penyakit Keturunan                      : -
4.      Anggota keluarga yang meninggal : tidak ada

8.      Pola Kebiasaan Sehari-hari
Kebutuhan Dasar
No
Jenis Kebutuhan
Sebelum masuk RS
Setelah masuk RS
1
Nutrisi
a.       makanan yang disukai
b.      makanan yang tidak disukai
c.       makanan pantangan
d.      nafsu makan
e.       porsi makan yang dihabiskan
f.       alat makan yang dipakai

-3 x sehari
Sate
Sayur
Udang
Baik
1 porsi
Piring, sendok

- Puasa
 

2
Minuman
a.       Jumlah minuman dalam sehari
b.      Minuman kesukaan
c.       hal-hal yang menghambat dalam pemenuhan cairan




8 gelas/ hari
Es/ minuman dingin
-

Puasa

2
Pola Tidur
a.       Tidur siang Jam
b.      Tidur malam  jam
c.       Kebiasaan tidur

1 jam
7  jam
Tidak ada

4  jam
6  jam
Tidak ada
3
Kebersihan Diri
a.       Mandi
ü  Mandi
ü  Peralatan mandi yang dipakai
b.      Rambut
ü  Cuci rambut
ü  Pakai shampoo
c.       Mengganti pakaian


Pagi
Sabun, shampo


Ya
Ya
Ya


Dilap dgn air hangat
Sabun


Tidak
Tidak
Ya
4
Eliminasi
a.       BAB
ü  Frekuensi

ü  Warna
ü  Konsistensi
ü  bau
b.      BAK
ü  Frekuensi
ü  Warna
ü  Bau


1x/hari

Kuning
Lembek
Khas

5x/hari
Jernih
Khas


1x/hari

Kuning
Lembek
Khas


5
Pola aktivitas bermain
3 jam
Tidak ada
7
Pengetahuan Orang tua tentang kesehatan
Tidak mengetahui penyakit yang dialami anaknya
 Mengetahui   penyakit yang dialami anaknya

                 Pemeriksaan penunjang :
HASIL LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

No. Lab / MR           :  1703300082/703344
Pasien                       :  Sebaztian Apriliano Napitupulu
J. Kelamin                :  Laki-laki
Tgl Lahir/Umur        : 09-04-2015/ 1 tahun 12 bulan 21 hari

JENIS PEMERIKSAAN
SATUAN
HASIL
RUJUKAN
HEMATOLOGI



Hemoglobin (HGB)
g/dl
9
10.8-15.6
Eritrosit (RBC)
Juta/pl
3.51
4.50-6.50
Leukosit (WBC)
/pl
4000
4.500-13.500
Hematrokit
%
33
33-45
Trombosit (PLT)
/pl
18.000
161.000-521.000
MCV
Fl
93
69-93
MCH
Pg
28.2
22-34
MCHC
g/dl
30.4
32-36
RDW
%
18.1
11.5-14.5
MPV
Fl
10.3
6.5-9.5
PCT
%
0.280
0.100-0.500
PDW
%
10.8
10.0-18.0
HITUNG JENIS



·         Neutofil
%
25.00
25.00-60.00
·         Limfosit
%
8.00
25.00-40.00
·         Monosit
%
7.40
2.00-8.00
·         Eusinofil
%
2.80
1.00-3.00
·         Basofil
%
0.00
1.00-5.00
·         Neutrofil Absolut
10 %/pl
5.45
2.7-6.5
·         Limfosit Absolut
10 %/pl
8.00
1.5-3.7
·         Monosit Absolut
10 %/pl
0.65
0.2-0.4
·         Eosinofil Absolut
10 %/pl
0.25
0-0.01
·         Basofil Absolut
10 %/pl
0.06
0-0.1
NRBC
%
0.0






     Terapi yang diberikan :
- Ceftriaxcone 1 gr/12 jam
- Ambroxol 3x1/2 tab
-  Paracetamol 3x1 tab
- Aminofusine

9.      Pemeriksaan Fisik
a.       Keadaan Umum  : Lemah,pucat.
b.      TB/BB                 : 16 cm/8 Kg

c.       Kepala                
1)      Bentuk           : Menonjol, simetris
2)      Rambut          : hitam

d.      Mata
1)      Pupil              : Isokhor
2)      Sklera            : Tidak ada ikterik
3)      Konjungtiva  : anemis
4)      Refleks Cahaya : Baik

e.       Hidung
1)      Polip              : Tidak ada
2)      Perdarahan    : Tidak ada
3)      Peradangan    : Tidak ada

f.       Mulut
1)      Mukosa gigi   : Bersih
2)      Bau                : Tidak ada
3)      Peradangan    : ada bintik putih dimukosa mulut
4)      Gigi               : 28 buah
5)      Perdarahan    : Tidak ada
6)      Kebersihan    : Bersih
g.      Telinga
1)      Serumen        : Tidak ada
2)      Cairan            : Tidak ada
3)      Peradangan    : Tidak ada

h.      Jantung
1)      Bunyi Jantung  : Tidak ada suara tambahan
2)      Irama Jantung  : -
3)      Nyeri dada       : -

i.        Paru-paru
1)      Bentuk paru   : Simetris
2)      Bunyi nafas   : Sonor
3)      Irama Pernafasan : Ireguler
4)      RR                 : 30 x/i

j.        Abdomen
1)      Inspeksi         : Simetris
2)      Palpasi           : Lunak, tidak ada massa
3)      Perkusi           : Timpani
4)      Auskultasi     : peristaltik 26 x/mnt

k.      Genitalia              : Bersih dan normal

l.        Kulit                    : Eritema (+), lesi (+)
                   Turgor Kulit        : lembab

m.    Ekstremitas
1)      Kekuatan          : Skala kekuatan otot : 5
2)      Rentang Gerak : bebas (mampu menggerakkan ke semua arah)
3)      Refleks             : Normal (fisiologis)

n.      Tanda- tanda vital  : TD : -
                                  HR: 78x/i
                                  RR:30x/i
                                     T   : 37 ºC

o.      Tingkat Kesadaran : Composmentis


B.     ANALISA DATA
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1.
DS: Keluarga pasien mengatakan anaknya tidak selera makan, mual dan muntah ketika diberi makan.
DO: Porsi yang disediakan hanya habis ¼ dari porsi yang disediakan, bibir kering, lidah kotor. BB sebelum masuk RS  11,8 kg  dan sesudah masuk rumah sakit BB 8 kg, dan pasien dipuasakan sudah 5 hari terakhir
Peradangan pada mukosa lambung

Erosi dinding lambung


Anoreksia, nausea, vomiting

Penyerapan nutrisi terganggu

Gangguan pemenuhan nutrisi

Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
2
DS : Keluarga pasien mengatakan bahwa kulit anaknya terdapat bintik-bintik hitam diseluruh tubuh, bintik-bintik hitam tersebut muncul semenjak pasien menjalani kemoterapi.
DO: terdapat lesi hitam diseluruh tubuh pasien, tekstur kulit pasien kasar dan kering
Kemoterapi

Trombositopenia

Muncul lesi pada kulit

Kerusakan integritas kulit
3.
DS : Keluarga pasien mengatakan bahwa mereka kurang mengerti tentang penyakit yang diderita oleh anaknya dan mereka pernah membawa anaknya berobat alternatif
DO: keluarga pasien tampak sering bertanya kepada perawat dan dokter tentang penyakit anaknya karna mereka hanya tamat SD
Tanda gejala muncul

Kurang terpapar informasi



Kurang pengetahuan

Penanganan yang tidak tepat


Kurang pengetahuan keluarga
4.
DS : Keluarga pasien mengatakan bahwa anaknya mudah bersin dan batu ketika terkena debu dan sering mengalami demam
 DO: klien tampak lemah, pucat dan kadang-kadang suhu tubuhnya meningkat lalu normal kembali.
TTV : RR : 26 x/i, HR : 115 x/i, T : 39ºC
Sel neoplasma berploriferasi didalam susmsum tulang

Kerusakan sumsum tulang

kemoterapi
 

         leukosit        

daya tahan tubuh

demam/hipertermi


Resiko infeksi





C.    DIAGNOSA KEPERAWATAN PRIORITAS
  1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
  2. Kerusakan integritas kulit
  3. Kurang pengetahuan keluarga
  4. Resiko infeksi














  1. INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Diagnosa keperawatan (NANDA)
Kriteria hasil (NOC)
Intervensi Keperawatan (NIC)
Rasional
1.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kriteria Hasil :
  1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
  2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
  3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
  4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi
  5. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

1.      Dorong klien  untuk tetap rileks saat makan
2.      Izinkan klien  memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan klien meningkat
3.      Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas
4.      Izinkan klien untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
5.      Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
6.      Dorong klien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
7.      Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep

1.      Jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi
2.      Untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
3.      Untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
4.      Untuk mendorong agar klien mau makan
5.      Karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik
6.      Kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat
7.      Membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya bila BB kurang dari normal


2.
Kerusakan integritas kulit

Kriteria Hasil :
-          Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)
-          Tidak ada luka/lesi pada kulit
-          Perfusi jaringan baik
-          Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang
-          Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

1.      Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal
2.      Ubah posisi dengan sering
3.      Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
4.      Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker
5.      Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering
6.      Dorong masukan kalori protein yang adekuat
7.      Anjurkan memilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi

  1. Karena area ini cenderung mengalami ulserasi
  2. Untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit
  3. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit
  4. Efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi
  5. Membantu mencegah friksi atau trauma kulit
  6. Untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negative
  7. Untuk meminimalkan iritasi tambahan
3.
Kurang pengetahuan

Kriteria Hasil :
-         Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
-         Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
-         Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

1.      Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
2.      Jelaskan potofisiologi dari penyakit dan bagaimana ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi dengan cara tepat
3.      Gambarkan tentang tanda dan gejala yang biasa nya muncul
4.      Jelaskan cara mencegah menangani dan mengobati penyakit klien
5.      Berikan kesempatan kepada klien untuk bertanya
6.      Evaluasi kembali tentang materi yang di sampaikan.
1.      Untuk menilai sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit anaknya
2.      Agar keluarga mengerti bagaimana proses terjadinya penyakit tersebut
3.      Agar keluarga mengerti tanda dan gejala apa saja yang sering muncul
4.      Agar keluarga mengerti cara mencegah, menangani dan cara mengobati penyakit tersebut
5.      Agar keluarga mengemukakan apa yang masih kurang dimengerti
6.      Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan keluarga setelah diberikan pendidikan kesehatan
4.
Resiko infeksi

Kriteria Hasil :
-         Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
-         Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,
-         Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
-         Jumlah leukosit dalam batas normal
-         Menunjukkan perilaku hidup sehat

1.      Pantau suhu dengan teliti (TTV)
2.      Tempatkan klien dalam ruangan khusus
3.      Anjurkan semua pengunjung dan staf rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
4.      Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif
5.      Evaluasi keadaan klien terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
6.      Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
7.      Berikan periode istirahat tanpa gangguan
8.      Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
9.      Berikan antibiotik sesuai ketentuan

1.      Untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
2.      Untuk meminimalkan terpaparnya klien dari sumber infeksi
3.      Untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
4.      Untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
5.      Untuk intervensi dini penanganan infeksi
6.      Rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme
7.      Menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
8.      Untuk mendukung pertahanan alami tubuh
9.      Diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus

  1. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN EVALUASI
Hari/tanggal
Diagnosa Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Kamis, 30/03/2017

09.30 wib s/d 13.30 wib

Jum’at, 31/03/2017

15.30 wib s/d 19.00 wib

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

1.      Mendorong klien  untuk tetap rileks saat makan
2.      Mengizinkan klien  memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan klien meningkat
3.      Memberikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas
4.      Mengizinkan klien untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
5.      Mendorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
6.      Mendorong klien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
7.      Menimbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep

S:   Ibu klien mengatakan anaknya sudah mulai menghabiskan makanannya
O: Klien tampak menghabiskan porsi makannya, BB naik 8 kg dari sebelumnya yaitu 8 kg menjadi 8,5 kg.
A : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

P : Intervensi dilanjutkan

Jum’at, 31/03/2017

09.30 wib s/d 13.30 wib


Sabtu, 01/04/2017

15.30 wib s/d 19.00 wib


Minggu, 02/04/2017

15.30 wib s/d 19.00 wib


Kerusakan integritas kulit

1.      Memberikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal
2.      Mengbah posisi dengan sering
3.      Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
4.      Mengkaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker
5.      Menganjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering
6.      Mendorong masukan kalori protein yang adekuat
7.      Menganjurkan memilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi

S : ibu klien mengatakan bintik-bintik hitam pada badan anaknya sudah mulai mengering dan berkurang
O : tubuh klien tampak lebih baik dari sebelumnya, lesi hitam pada tubuhnya mulai mengering dan berkurang
A : Kerusakan integritas kulit
P : Intervensi dilanjutkan
Sabtu, 01/04/2017

09.00 wib


Kurang pengetahuan
1.      Memberikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
2.      Menjelaskan potofisiologi dari penyakit dan bagaimana ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi dengan cara tepat
3.      Menggambarkan tentang tanda dan gejala yang biasa nya muncul
4.      Menjelaskan cara mencegah menangani dan mengobati penyakit klien
5.      Memberikan kesempatan kepada klien untuk bertanya
6.      Mengevaluasi kembali tentang materi yang di sampaikan
S : ibu klien mengatakan sudah mengerti dengan penyakit anaknya, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, dan cara mencegah komplikasi
O : ibu klien tampak sudah mengerti tentang penyakitnya, klien dapat menjelaskan kembali materi yang telah disampaikan oleh perawat.
A:   Kurang Pengetahuan
P : Intervensi dilanjutkan
Sabtu, 01/04/2017

09.30 wib s/d 13.30 wib


Minggu, 02/04/2017

09.30 wib s/d 13.30 wib


Senin, 03/04/2017

09.30 wib s/d 13.30 wib


Resiko infeksi
1.      Memantau suhu dengan teliti (TTV)
2.      Menempatkan klien dalam ruangan khusus
3.      Anjurkan semua pengunjung dan staf rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
  1. Menggunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif
  2. Mengevaluasi keadaan klien terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
  3. Menginspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
  4. Memberikan periode istirahat tanpa gangguan
  5. Memberikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
  6. Memberikan antibiotik sesuai ketentuan

S : ibu klien mengatakan kondisi anaknya berangsur mulai membaik, anak sudah jarang demam, bersin dan flu.
O : suhu tubuh klien normal (T=36,7ºC), ibu klien sudah mengerti tentang PHBS, klien dan ibu dapat mempraktekkan apa yang telah diajarkan perawat
A: Resiko tinggi infeksi
P : Intervensi dilanjutkan




 BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis membahas asuhan keperawatan pada An. S penulis akan membandingkan dengan landasan teoritis keperawatan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, pembahasan ini meliputi permasalahan, faktor penghambat dan faktor pendukung dalam memberikan asuhan keperawatan. Pada saat membahas asuhan keperawatan, penulis menemukan kesenjangan antara teoritis keperawatan dengan tinjauan kasus. Oleh sebab itu penulis membahas setiap tahap proses dari pengkajian sampai evaluasi.

1. Pengkajian
Pada pengkajian di dalam teoritis keperawatan terdapat kesenjangan antara teoritis dengan kasus. Di dalam pengkajian teoritis pola eliminasi terjadi diare, feses hitam sedangkan pada kasus tidak ada ditemukan. Pada pengkajian teoritis terdapat nyeri abdomen, nyeri tulang sendi sedangkan pada kasus tidak ada ditemukan. Dalam melakukan tahap pengkajian penulis tidak menemukan kesulitan karena data yang tersedia lengkap dan orang tua pasien dapat diajak kerja sama.

2. Diagnosa Keperawatan
      Diagnosa keperawatan yang berdasarkan teori asuhan keperawatan meliputi:
1)   Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2)    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
3)   Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
4)   Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
5)   Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi
6)   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
7)   Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
8)   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas.
9)   Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan.
10)    Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia (Simon, 2003).
                  Sedangkan di lapangan hanya ditemukan 4 diagnosa saja yaitu:
1)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan  anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
2)      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas.
3)      Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan orang tua klien tidak tahu apa sebenarnya itu leukemia.
4)      Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
      3.   Intervensi Keperawatan
Sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus, maka intervensi dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pada diagnosa pertama, penulis berkolaborasi dengan tim medis seperti pemberian injeksi dan obat sesuai dengan indikasi serta dilakukannya pemberian transfusi darah sebanyak 85 cc dan adanya pemantauan transfusi darah. Ini dilakukan karena ditakutkan aak alergi karena darah yang ditransfusi bukan berasal dari keluarga karena keluarga kurang paham tentang prosedurnya.
Dalam diagnosa kedua ada penempatan pasien di ruang isolasi serta adanya perlindungan dari sumber potensial phatogen / infeksi juga membatasi sumber infeksi agar tidak komplikasi.
Diagnosa ketiga lebih memprioritaskan ke masalah kebutuhan pasien dalam kebutuhan sehari-hari serta mobilitas.



4. Implementasi Keperawatan
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang sudah dibuat dalam 24 jam selama 3 hari.
Implementasi lebih prioritas ke dalam tahap pengembangan karena anak sudah lama dirawat di ruangan, sehingga keluarga pun suah paham akan yang dilakukan sesuai rencana asuhan keperawatan.
Dalam implementasi tidak terlalu banyak hambatan dan anak mudah diatur sehingga dalam implementasi hanya terfokus dalam komunikasi serta tindakan tang terapeutik.

      5.   Evaluasi
Setelah dilakukan pengkajian sampai evaluasi dari hasil pemantauan langsung pada pasien tentang semua masalah yang ditemukan masalah yang sudah teratasi yaitu :
1.      Kurang pengetahuan keluarga
2.      Resiko infeksi

      Masalah yang belum teratasi yaitu :
1.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
2.      Gangguan integritas kulit
     
Hal tersebut dikarenakan butuh proses dalam penanganannya sehingga masalah tersebut dapat teratasi dengan baik.
     









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
      A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil kelompok dalam merencanakan tindakan keperawatan pada Anak S dengan gangguan haematologi: Akut Leukemia Limfositik di kamar III.0 RB4 Anak Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan tahun 2017, maka penulis dapat mengambil kesimpulan antara lain yaitu:
1.      Pada tahap pengkajian ditemukannya data subjektif, anak, lemas, lemah sedangkan pada data objektif ditemukan anak pucat, bibir pucat, conjungtiva pucat, tubuh pasien tampak kurus.
2.      Diagnosa keperawatan penulis temukan empat diagnosa keperawatan yang terdiri dari tiga  masalah yang aktual sedangkan satu masalah resiko tinggi yang akan terjadi.
3.      Pada tahap perencanaan dilakukan berdasarkan proses masalah yang ditemukan pada pasien yaitu: perubahan perfusi jaringan. Resiko terjadinya infeksi dan gangguan pola aktivitas.
4.      Dalam tahap pelaksanaan dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang sudah dirumuskan.

      B.     Saran
Setelah mempelajari dan mengamati kasus pada Anak S, maka kelompok menyarankan:
1.      Diharapkan kepada perawat supaya dapat bekerja dan melakukan segala tindakan keperawatan yang baik dan benar terutama dalam merawat pasien leukemia, perawat dituntut kecakapannya dalam melakukan proses perawat dan pegobatannya.
2.      Dianjurkan kepada pasien agar tidak melakukan aktifitas yang terlalu berat.
3.      Diharapkan kepada keluarga supaya ada kerja sama yang baik dalam melaksanakan perawatan leukemia, setiap pasien yang mengalami penyakit leukemia.

 DAFTAR PUSTAKA
Abraham, Rudolph, dkk. 2006.Buku Ajar Pediatric Rudolph.Jakarta : EGC

Alpers, Ann. (2006). Buku Ajar Pediatri Rudolph, Edisi 20,. Jakarta : EGC.

A.V. Hoffbrand, J.E. Petit, P.A.H. Moss, Kapita  Selekta Hematologi Edisi 4.Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 2005: 221, 295

Bandura, A. (2004). Health Promotion By Social Cognitive Means. Health Education And Behavior, 31, 143-164

Brunner & Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah Volume 2 ed.8. Jakarta: EGC

Bulechek, Gloria M., Howard K. Butcher, Joanne McCloskey Dochterman. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC) : Fifth Edition. Missouri : Mosby Elsevier.
Buku saku NIC NOC.NANDA. (2005) Diagnosa Keperawatan, Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.
Elizabeth J. Corwin. 1996. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Geissler Doenges moorhouse, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta: EGC.

Honkenberry, M.J., & Wilson, D. (2007). Nursing Care Of Infants And Children, (8thed). St.Lois :Mosby Elsevier

          Moorhead, Sue., Marion Johnson, Meridean L. Maas, Elizabeth Swanson. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) : Fourth Edition. Missouri : Mosby Elsevier.

Price, Sylvia A. 2002. Patofisiologi: Konsep klinis Proses-proses penyakit. Jakarta: EGC

Price, Sylvia Anderson. (1994) Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta. EGC.
Reeves, Charlene J et al. (2001). Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta: Salemba Medika.
Smeltzer Suzanne C. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta: EGC.

Tucker, Susan Martin et al. (1998). Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC.
Wiley, John dan Sons Ltd. 2009. NANDA International : 2009-2011. United Kingdom : Markono Print Media.

















 

© 2013 BLOG WENDY GOXIL. All rights resevered. Designed by Templateism | Blogger Templates

Back To Top