Tuesday, December 9, 2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPOGLIKEMIA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Hipoglikemia ialah suatu penurunan abnormal kadar gula darah. Terdapat teknik baru untuk menguji keadaan hipoglikemi, seperti menggunakan penganalisa oksidase glukosa atau optical bedside glucose analyzer (mis One Touch). Teknik ini lebih bermakna untuk tujuan skrining di ruang rawat karena interpretasi warna terkadang tidak subjektif. Pada praktik klinik, bayi dengan kadar glukosa kurang dari 40 mg/dL memerlukan intervensi. Juga untuk menilai glukosa plasma < 20 hingga 25 mg/dL harus diterapi dengan pemberian glukosa per parenteral tanpa mempertimbangkan usia atau masa gestasi.
Munculnya gejala dan kadar glukosa sangat bervariasi pada setiap bagi. Gejala biasanya muncul bila kadar glukosa < 40 mg/dL dan tampak antara 24 dan 72 jam setelah kelahiran atau dalam 6 jam setelah suatu kelahiran bayi mengalami stress berat. Saat bayi berusia 72 jam, pencapaian kadar glukosa sebesar 45 mg/dL atau lebih adalah hasil yang diharapkan tanpa mempertimbangkan berat badan, usia gestasi atau faktor predisposisi lainnya.

B. Tujuan
a.       Tujuan Umum Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada kasus hipoglikemi
b.      Tujuan Khusus
-       Mengetahui pengkajian pada kasus hipoglikemi
-       Mengetahui diagnosa pada kasus hipoglikemi
-       Mengetahui intervensi pada kasus hipoglikemi
-       Mengetahui implementasi pada kasus hipoglikemi
-       Mengetahui evaluasi pada kasus hipoglikemi





-       BAB II
LANDASAN TEORITIS MEDIS
1.      DEFINISI
     Hipoglikemi adalah suatu keadaan, dimana kadar gula darah plasma  puasa kurang dari 50 mg/%. (Marino : 1991)
.
Hipoglikemi bisa didefinisikan sebagai kadar gula yang rendah, biasanya kurang dari 3 mmol/L pada pembuluh vena dengan gejala dan tanda utama dimana harus secepatnya dikenali. (Wong and Whaley : 1996).

Hipoglikemia =Hipoglikemia murni=True hypoglicemy=gejala hipoglikemia apabila gula darah < 60 mg/dl.(Dr Soetomo ,1998)
Definisi kimiawi dari hipoglokemia adalah glukosa darah kurang dari 2,2 m mol/l, walaupun gejala dapat timbul pada tingkat gula darah yang lebih tinggi. (Petter Patresia A,1997)

Hipoglikemia adalah batas terendah kadar glukosa darah puasa(true glucose) adalah 60 mg %,dengan dasar tersebut maka penurunan kadar glukosa darah di bawah 60 mg%. (Wiyono ,1999).
Hipoglikemia adalah glukosa darah rendah, terjadi pada atau tergantung pada kadar gula atau glukosa di dalam tubuh lebih rendah dari kebutuhan tubuh.

2.       ETIOLOGI
Etiologi hipoglikemia pada diabetes mellitus (DM)
a.       hipoglikemia pada stadium dini
b.      hipoglikemia dalam rangka pengobatan DM
1)      penggunaan insulin
2)      penggunaan sulfonylurea
3)      bayi yang lahir dari ibu pasien DM
c.       Hipoglikemia yang tidak berkaitan dengan DM
1)      hiperinsulinesme alimenter pasca gastrektomi
2)      insulinoma
3)      penyakit hati berat
4)      tumor ekstra pankreatik,fibrosarkoma,karsinoma ginjal
5)      hipopituitarism,  (Mansjoer A, 1999: 602).

Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya hipoglikemia pada pasien yang mendapat pengobatan insulin atau sulfonylurea:
a.       Faktor-faktor yang berkaitan dengan pasien
1)      pengurangan/keterlambatan makan
2)      kesalalahan dosis obat
3)      latihan jasmani yang berlebihan
4)      penurunan kebutuhan insulin
-          penyembuhan dari penyakit
-          nefropati diabetic
-          hipotiroidisme
-          penyakit Addison
-          hipopituitarisme
5)      hari-hari pertama persalinan
6)      penyakit hati berat
7)      gastro paresis diabetic

b.      Faktor-faktor yang berkaitan dengan dokter
1)      pengendalian glukosa darah yang ketat
2)      pemberian obat-obat yang mempunyai potensi hiperglikemik
3)      penggantian jenis insulin, (Mansjoer A, 1999: 602)

3.      PATOFISIOLOGI
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata, keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak, ada tiga gambaran klinis yang penting pada diabetes ketoasidosis.
a.       dehidrasi
b.      kehilangan elektrolit
c.       asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula, di samping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali, kedua factor ini akan menimbulkan hipoglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diuresis osmotic yang di tandai oleh urinaria berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. penderita ketoasidosis diabetic yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 liter air dan sampai 400 hingga mEq natrium, kalium serta klorida selama periode waktu 24 jam.
Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (liposis) menjadi asam-asam lemak bebas dan gliseral.asam lemak bebas akan di ubah menjadi badan keton oleh hati, pada keton asidosis diabetic terjadi produksi badan keton yang berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah timbulnya keadaan tersebut, badan keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam sirkulasi darah, badan keton akan menimbulkan asidosis metabolic.
Pada hipoglikemia ringan ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidak mampuan berkonsentrasi, sakit kepala,vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa di daerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi dari gejala ini (di samping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang.
Pada hipoglikemia berat fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat, sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia yang di deritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit di bangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran. ( Smeltzer. 2001 ).


4.      MANIFESTASI KLINIS
      Gejala-gejala hipoglikemia terdiri dari dua fase yaitu
a.       Fase  I : gejala-gejala aktivas pusat autonom dan hipotalamus sehingga          hormon epinefrin di lepaskan, gejala awal ini merupakan peringatan karena saat itu pasien masih sadar sehingga dapat di ambil tindakan yang perlu untuk mengatasi hipoglikemia lanjut.
b.      Fase II: gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak,karena itu di namakan gejala neurologist.
Penelitian pada orang yang bukan diabetes menunjukan adanya gangguan fungsi otak yang lebih awal dari fase I dan di namakan ganguan fungsi otak subliminal, di samping gejala yang tidak khas.
Kadang-kadang gejala fase adrenergic tidak muncul dan pasien langsung jauh pada fase gangguan fungsi otak, terdapat dua jenis hilangnya kewaspadaan, yaitu akut dan kronik.
Yang akut misalnya : pada pasien DMT I dengan glukosa darah terkontrol sangat ketat mendekati normal, adanya neuropati autonom pada pasien yang sudah lama menderita DM, dan menggunakan beta bloker yang non selektif,kehilangan kewaspadaan yang kronik biasanya irreversible dan di anggap merupakan komplikasi DM yang serius.
Sebagai dasar diagnosis dapat di gunakan trias whipple, yaitu hipoglikemia dengan gejala-gejala saraf pusat, kadar glukosa kurang dari 50 mg% dan gejala akan menghilang dengan pemberian glukosa.
Factor-faktor yang dapat menimbulkan hipoglikemia berat dan berkepanjangan adalah kegagalan sekresi hormone glukagen dan adrenalin pasien telah lama menderita DM) adanya antibody terhadap insulin, blockade farmakologik (beta bloker non selektif), dan pemberian obat sulfonylurea (obat anti DM yang berkasiat lama). (Mansjoer A, 1997 :  603).

Pertama, hipoglikemia dalam diabetic adalah lebih umum ketimbang ketoasidosis, meskipun sebagian besar penyebaran terdapat pada kelompok ketergantungan insulin.Kedua awitan dari hipoglikemia adalah lebih cepat dan manifestasinya adalah lebih bervariasi, sering terjadi dengan cara yang tidak jelas sehingga dapat mengelakan perhatian seseorang sampai orang tersebut tidak menyadari apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi dan tidak mampu untuk mencarari pengobatan yang tidak sesuai, sehingga reaksi hipoglikemia akibat insulin dapat terjadi di tengah-tengah kehidupan sehari-hari pasien.Yang setidaknya dapat memalukan dan yang lebih buruk sangat membahayakan. Ketiga meskipun pemulihan yang berarti dan hipoglikemia dapat cepat dan sempurna dalam beberapa menit setelah pengobatan yang sesuai, banyak pasien secara emosional (kemungkinan secara psikologis) tetap terguncang selama beberapa jam atau bahkan selama beberapa hari setelah reaksi insulin. Akhirnya dalam kondisi hipoglikemia ekstrim, masih mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan kerusakan otak permanen dan bahkan fatal.(Ester,2000:464).

Di kutip dari Karen Bruke 2005 :1478 ada beberapa tanda gejala ataupun manifestasi klinis yang  meliputi:

-          Lapar        
-          Mual-muntah
-          Pucat,kulit dingin
-          Sakit kepala
-          Nadi cepat
-          Hipotensi
-         Irritabilitas


Manifestasi sebab perubahan fungsi serebral
-     Sakit kepala
-          Koma
-          Kesulitan dalam berfikir
-          Ketidakmampuan dalam berkonsentrasi

5.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan glukosa darah sebelum dan sesudah suntikan dekstrosa. (Mansjoer A 1999: 604)
Di kutip dari www.medicare.com ada berbagai pemeriksaan penunjang meliputi :
a.       perpanjangan pengawasan puasa, tes primer untuk hypoglikemia, perpanjanganya (48-72 jam) setelah pengawasan puasa.
b.      Tes bercampur makanan, tes ini di gunakan jika anda mempunyai tanda puasa (2 jam PP)
c.       Tes urine di simpan untuk mencari substansi keton.
d.      Tes ini juga mencari tes pancreas atau penyakit endokrin.



6.       PENATALAKSANAAN
Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit. Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor (misalnya diazoksid). Bukan penderita diabetes yang sering mengalami hipoglikemia dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil.




BAB III
LANDASAN TEORITIS KEPERAWATAN
1. Pengkajian
A.    Pengkajian Primer (Primary Survey)
a.       Pemeriksaan fisik berdasarkan prinsip ABCD
a.       A (Airway)
Kaji adanya sumbatan jalan nafas dan tanda-tanda bila terjadi hambatan jalan nafas
b.      B (Breathing)
Kaji pernafasan klien dengan cara Look, Listen and Feel
·         Look : lihat ada pergerakan dada atau tidak
·         Listen : dengar jika ada suara nafas tambahan (snoring, gargling, crowing)
·         Feel : rasakan hembusan nafas klien
c.       C (Circulation)
Pada pemeriksaan fisik circulation data yang diperoleh adalah detak jantung meningkat serta akral dingin dan pucat
d.      D (Disability)
Kesadaran menurun sampai koma karena otak kekurangan suplai glukosa. Untuk menilai kesadaran kita juga dapat menggunakan metode AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive) dengan cara :
·         A         : Korban sadar, jika tidak segera lanjutkan dengan Verbal
·         V         : Coba memanggil klien dengan keras di dekat telinga klien, jika tidak ada respon lanjut ke Pain
·         P          : Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku), selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal diatas mata (supra orbital).
·         U         : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
e.       E (Exposure)
Pada exposure kita melakukan pengkajian secara menyeluruh, hipoglikemia lebih sering terjadi pada klien dengan riwayat diabetes mellitus kita harus mengkaji apakah ada luka/infeksi pada tubuh klien
b.      Pemeriksaan fisik Review of System (ROS)
a.       Pernafasan (B1)
b.      Kardiovaskuler (B2)
Palpitasi, Akral dingin dan pucat, berkeringat meski suhu normal
c.       Persyarafan (B3)
Agresif, emosi labil, pusing, penglihatan kabur/ganda, parestesia bibir dan jari, kejang, penurunan kesadaran-koma
d.      Perkemihan (B4)
Poliuria pada kasus hipoglikemi akibat diabetes mellitus
e.       Pencernaan (B5)
Rasa lapar timbul akibat efek pelepasan epinefrin(adrenalin)
f.       Muskuloskeletal dan integument (B6)
Kelemahan dan mudah capek saat melakukan aktivitas

B.     Secondary Survey
Primary survey dan resusitasi harus terselesaikan sebelum dilakukan secondary survey. Jika, selesai dilakukan primary survey kondisi pasien tidak stabil maka harus dilakukan tahap pengulangan sampai kondisi pasien stabil.
Riwayat AMPLE membantu rencana perawatan pasien :
·         Allergies
·         Medication
·         Past illness/pregnancy
·         Late Ate or drank
·         Events/ Environment related to the injury






a.       Anamnesa
1.   Identitas
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.
2.   Keluhan Utama
Biasanya pasien mengeluh pusing, lemah dan penurunan konsentrasi.
3.   Riwayat penyakit saat ini
Berisi tentang kapan terjadinya hipoglikemia, apa yang dirasakan klien dan apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi sakitnya.
4.   Riwayat penyakit dahulu
Kaji adanya penyakit yag diderita seperti diabetes mellitus, hepatitis, sirosis hepatis, gagal ginjal dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan hipoglikemia. Kaji riwayat penggunaan obat, konsumsi alcohol, aktivitas fisik yang dilakukan dan asupan makanan.
5.   Riwayat penyakit keluarga
Kaji adanya penyakit keluarga yang bisa menimbulkan hipoglikemia seperti diabetes mellitus, hepatitis
6.   Pengkajian bio-psiko-sosio-spiritual
Berhubungan dengan perasaan dan emosi yang di alami pasien mengenai kondisinya.
b.      Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemeriksaan kadar glukosa darah rendah adalah 60mg/dl atau kurang

2. Diagnosa Keperawatan
1)      Resiko aspirasi b.d penurunan kesadaran
2)      Resiko cidera b.d penurunan kesadaran dan gangguan penglihatan
3)      Kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan berlebih
4)      Nyeri akut b.d vasodilatasi pembuluh  darah intracranial
5)      Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
6)      Hambatan komunikasi verbal b.d efek adregenic: parestesia bibir



3.3  Intervensi Keperawatan
1.       Resiko aspirasi b.d penurunan kesadaran
Tujuan                         : Tidak terjadi aspirasi
Kriteria Hasil               : Kesadaran meningkat, toleransi pemberian makanan per oral tanpa aspirasi
No.
Intervensi
Rasional
1
Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk dan kemampuan menelan
Menentukan tindakan keperawatan selanjutnya
2
Tempatkan pasien pada posisi semi fowler atau posisi kepala lebih tinggi
Untuk mencegah aspirasi
3
Hindari pemberian cairan atau makanan per oral jika kesadaran klien rendah
Untuk mencegah aspirasi
4
Monitor status paru
Evaluasi ada aspirasi atau tidak

2.      Resiko cidera b.d penurunan kesadaran dan gangguan penglihatan
Tujuan             : Tidak terjadi cidera
Kriteria Hasil   : Resiko cidera berkurang/hilang
No
Intervensi
Rasional
1
Ciptakan lingkungan yang aman bagi klien, pidahkan perabotan yang dapat membahayakan klien
Menguangi resiko cidera
2
Pasang pengaman pada sisi tempat tidur klien dan turunkan tinggi tempat tidur klien
Mengamankan klien saat berada di tempat tidur
3
Berikan penerangan yang adekuat
Mengurangi resiko cidera
4
Bantu klien dalam ambulasi
Mengurangi resiko cidera





3.      Kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan berlebih
Tujuan             : Kebutuhan cairan seimbang
Kriteria Hasil   : intake-output cairan seimbang, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil
No
Intervensi
Rasional
1
Anjurkan pasien mengkonsumsi ciran sedikitnya 2500ml/hari atau disesuaikan dengan kebutuhan cairan klien
Untuk pemenuhan kebutuhan dasar cairan dan menurunkan resiko dehidrasi
2
Pantau masukan dan haluaran, pantau keseimbangan cairan
Memberikan informasi keadekuatan volume cairan dan kebutuhan cairan
3
Evaluasi perubahan membran mukosa dan turgor kulit
Indikator langsung status cairan
4
Monitoring perubahan tanda-tanda vital
Peningkatn suhu meningkatkan laju metabolik dan kehilangan cairan melalui evaporasi. Dehidrasi juga ditandai dengan perubahan suhu dan tekanan darah
5
Kolaborasi untuk pemberian cairan tambahan melalui IV sesuai keperluan
Intake cairan parenteral dapat memperbaiki kekurangan cairan

4.      Nyeri akut b.d vasodilatasi pembuluh  darah intracranial
Tujuan             :  Nyeri berkurang/hilang
Kriteria Hasil   :  Skala nyeri berkurang, nyeri dapat dikontrol
No.
Intervensi
Rasional

Istirahatkan klien di lingkungan yang tenang
Menurunkan stimulasi yang berlebih dapat mengurangisakit kepala

Observasi tanda-tanda nyeri non-verbal seperti ekspresi wajah, posisi tubuh dan gelisah
Menilai derajat nyeri yang tidak langsung

Berikan kompres hangat pada kepala
Meningkatkan sirkulasi dan memberikan efek relaksasi

Kolaborasi pemberian analgesik
Analgesik mengurangi nyeri

5.      Intoleransi aktivitas b.d kelemahan
Tujuan             : Toleransi aktivitas yang biasa dilakukan
Kriteria Hasil   : Peningkatan toleransi aktivitas
No
Intervensi
Rasional

Identifikasi dan minimalkan factor-faktor yang dapat menurunkan toleransi aktivitas
Membantu meningkatkan aktivitas

Ajarkan klien metode penghematan energy untuk aktivitas
Memberikan bantuan sesuai kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas

Berikan bantuan sesuai kebutuhan





BAB IV
TINJAUAN KASUS
 CONTOH KASUS

Pasien perempuan usia 65 tahun datang dengan keluhan pasien mengeluhkan lemas, pusing. 1 hari sebelum masuk RS pasien pingsan 2 kali. Pasien tidak mau makan dan mengeluhkan perutnya sakit. Sesak (-), mual (+), muntah (-), minum (+) normal, belum BAB 2 hari, BAK (+) normal jernih Riwayat penyakit dengan keluhan serupa disangkal. Riwayat keluarga dengan penyakit atau keluhan serupa disangkal. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, compos mentis, , tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 90 x/menit regular, respirasi 22 x/menit tipe thoracoabdominal dan suhu 36o C. Pemeriksaan kepala-leher, konjungtiva anemis +/+, sklera tidak ikterik, hidung, mulut, mandibula tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan thorak, dan ekstremitas tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan abdomen auskultasi bising ususperistaltik (+) normal, timpani pada perkusi, dari palpasi supel, terdapat nyeri tekan pada regio abdomen terutama regio epigastrium, hepar dan lien tidak teraba, tidak terdapat nyeri ketok sudut kostovertebra
Pemeriksaan penunjang : darah lengkap Hb 12,0 gr/dl, Hmt 38.4%; Angka Leukosit 14.72 . 103/Ul; Angka Eritrosit 4.11 .106/Ul; Angka Trombosit 309 .103/Ul; GDS 29 Mg%; Urea 60.5 Mg%; Creatin 1.61 Mg%.

Diagnosis 

Diagnosis Hipoglikemia

Terapi

Terapi Infus D5% , Injeksi Ranitidin 2 x 1 gr, Injeksi Antasida 3 x 1, Injeksi Sotatic 3 x 1 mg, Captopril 2 x 25 mg

Penanganan
Prinsip dari penanganan hipoglikemia adalah menaikkan kembali kadar gula darah yang rendah sehingga mencapai kadar normalnya. Gejala hipoglikemia akan menghilang dalam beberapa menit setelah penderita mengkonsumsi gula (dalam bentuk permen atau tablet glukosa) maupun minum jus buah, air gula atau segelas susu. Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes), hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan memberikan sejumlah gula yang konsisten. Baik penderita diabetes maupun bukan, sebaiknya sesudah makan gula diikuti dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang bertahan lama (misalnya roti atau biskuit). Jika hipoglikemianya berat dan berlangsung lama serta tidak mungkin untuk memasukkan gula melalui mulut penderita, maka diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yang serius. Seseorang yang memiliki resiko mengalami episode hipoglikemia berat sebaiknya selalu membawa glukagon. Glukagon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel pulau pankreas, yang merangsang pembentukan sejumlah besar glukosa dari cadangan karbohidrat di dalam hati. Glukagon tersedia dalam bentuk suntikan dan biasanya mengembalikan gula darah dalam waktu 5-15 menit. Tumor penghasil insulin harus diangkat melalui pembedahan. Sebelum pembedahan, diberikan obat untuk menghambat pelepasan insulin oleh tumor (misalnya diazoksid). Penderita nondiabetes yang sering mengalami hipoglikemia, dapat menghindari serangan hipoglikemia dengan sering makan dalam porsi kecil


ASUHAN KEPERAWATAN Ny. S DENGAN HIPOGLIKEMIA
A.    PENGKAJIAN
1.      PENGUMPULAN DATA
a.      Biodata
Nama                                       : Ny “S”
Umur                                       : 65 Tahun.
Jenis Kelamin                          : Perempuan.
Suku/Bangsa                           : Jawa/Indonesia
Agama                                     : Islam
Status Marietal                        : Kawin
Pendidikan                              : SMA
Pekerjaan                                 : IRT
Bahasa yang digunakan          : Indonesia
Alamat                                    : Ds , Seikambing , Kec; Helvetia
Cara Masuk                               : Lewat Instalasi Rawat Darurat RSU Sari Mutiara


Identitas penanggung jawab
Nama                          : Tn. Z
Umur                          : 66 tahun
Jenis kelamin              : Laki-laki
Pendidikan                 : S1
Pekerjaan                    : Pegawai Negeri
Hubungan dengan pasien : Suami

b.      Diagnosa Medis   : Hipoglikemia
c.       Keluhan Utama   : lemas dan pusing
d.      Riwayat penyakit sekarang
Pasien perempuan usia 65 tahun datang dengan keluhan pasien mengeluhkan lemas, pusing. 1 hari sebelum masuk RS pasien pingsan 2 kali. Pasien tidak mau makan dan mengeluhkan perutnya sakit

e.       Riwayat kesehatan/ penyakit masa lalu
 Riwayat penyakit dengan keluhan serupa disangkal.
f.       Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat keluarga dengan penyakit atau keluhan serupa disangkal.
g.      Riwayat kajian fisik
Persepsi terhadap sehat sakit    : Sehat adalah tidak merasa sakit dan sakit      adalah seseorang yang merasa sakit pada tubuhnya.
Kebiasaan                                           : Terkadang klien minum kopi. Dulu klien suka makan cabe. Klien masih suka makan makanan yang keras seperti jagung goreng, kacang goreng, peyek dan kerupuk
Pola nutrisi                                         : Klien makan 3 x sehari, terkadang pagi  hanya makan roti dan teh manis, klien tidak mempunyai jam makan, makan kalau selera makan dan terkadang klien tidak selera makan
Pola istirahat / tidur                            : Pada siang hari klien tidur 1-2 jam dan pada malam hari klien tidur 5-6 jam
Pola eliminasi                                     : BAB 1x sehari dan BAK sebanyak 5-6 x sehari
Kebiasaan berolah raga        : Klien tidak memiliki kebiasaan berolah raga
Kemampuan melakukan aktifitas       : Klien kurang melakukan aktifitas karena bila klien melakukan aktifitas yang berat maka klien akan merasa lemas

h.       Riwayat psikologi
Emosi klien dalam keadaan stabil, klien tampak tenang, kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat dan klien melakukan sahalat 5 waktu walaupun terkadang ada yang tinggal, klien juga ikut perwiritan ibu-ibu.

i.         Riwayat Sosial Ekonomi
Klien dulunya bekerja sebagai petani, tetapi sekarang klien tidak bertani karena merasa tubuhnya tidak kuat lagi. Sumber pendapatan dipenuni oleh anak klien yang bekerja di pabrik dan jualan dan tinggal bersama klien
j.         Riwayat Spiritual
Klien melakukan sholat 5 waktu, walaupun kadang ada yang tinggal, klien juga ikut perwiritan ibu-ibu

k.       Riwayat Psikososial
Klien memiliki komunikasi yang baik dengan keluarga yaitu suami, anak dan cucu yang tinggal satu rumah dengan klien, maupun yang tinggal berdekatan dengan rumah klien. Klien dapat berinteraksi dengan tetangga  sekitar rumah dengan baik dan juga ikut dalam kegiatan perwiritan ibu – ibu

l.         PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum                : Kesadaran klien compos mentis dan keadaan umum baik
Tanda vital                       : TD : 160 / 100 mmHg     HR : 90 x/I      BB : 51 kg
                                           RR : 22 x/i                     T : 36C          TB : 147 cm
Kepala                              : Bentuk bulat, simetris dan anatomis. Tidak dijumpai tanda peradangan, rambut menyebar merata dan beruban
Mata                                 : Klien  masih mampu melihat benda dengan jarak 2 M, walaupun agak kabur, konjungtiva anemis    
Telinga                             : Terkadang klien kurang mendengar suara lawan bicaranya dengan suara normal
Hidung                             : Bentuk anatomis dan simetris, tidak dijumpai adanya perdarahan dan tanda peradangan
Mulut / tenggorokan        :  Tidak dijumpai perdarahan dan tanda-tanda peradangan, gigi atas sebelah kanan sudah banyak yang tanggal, gigi bawah masih banyak yang utuh
Pernafasan                       : Pola nafas reguler dengan frekuensi 24 x/I
Sirkulasi                           : Pada extremitas atas dan bawah tidak dijumpai adanya edema
Abdomen                         : Bentuk simetris, peristaltik 10 x/i, nyeri ulu hati tidak ada, lingkar perut 108 cm
Eliminasi (BAB/BAK)    : BAB 1x sehari dan BAK 5-6 x sehari
Gastrointestinal                : Di dalam teori di katakan bahwa salah satu perubahan fisik pada lansia adalah perubahan Gastrointestinal di mana di dalam saluran GI ini dinding usus kehilangan kekutan dan elastisitas seiring bertambahnya umur sehingga mengakibatkan gangguan pencernaan dan penyerapan zat gizi sehingga dapat menimbulkan keadaan atau kondisi Hypoglikemia.
Neurologis                       : Klien tidak mengalami paralysis dan parese
Muskuloskletal                 : Mobilisasi baik tetapi klien mengurangi mobilisasi karena takut lemas, klien tidak mengalami kiposis dan klien tidak mengalami kesulitan dalam melakukan ROM
Kulit                                 : Elastis kulit berkurang karena faktor usia

m.    Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah lengkap Hb 12,0 gr/dl, Hmt 38.4%; Angka Leukosit 14.72 . 103/Ul; Angka Eritrosit 4.11 .106/Ul; Angka Trombosit 309 .103/Ul; GDS 29 Mg%; Urea 60.5 Mg%; Creatin 1.61 Mg%.



B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.      nutrisi kurang dari kebutuhan b.d Kurangnya asupan glukosa
b.      Intoleransi aktivitas b.d kelemahan muskuloskeletal
c.       Resiko cidera b.d penurunan kesadaran




C.    INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Tanggal
Dx
Tujuan dan Kriteria Hasil
intervensi
Rasional
Implementasi
Evaluasi
1
20/11/2014
nutrisi kurang dari kebutuhan b.d Kurangnya asupan glukosa
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkanIndividu menunjukkan keadekuatan status gizi: asupan makanan, cairan, dan zat gizi.
Kriteria Hasil :
Ø  Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
Ø  Nilai glukosa dalam tubuh dalam batas normal
Ø  Individu melaporkan keadekuatan tingkat energy
Ø Berikan asupan diet makanan dan cairan yang seimbang melalui oral

Ø Berikan terapi cairan sesuai dengan indikasi, normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dekstrosa


Ø Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan

Ø Berikan informasi yang tepat kepada keluarga tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.

Ø mengembalikan asupan glukosa dalam tubuh




Ø mengembalikan cairan dengan adekuat







Ø memastikan dan memantau perkembangan nutrisi pasien

Ø meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai kebutuhan nutrisi pasien sesuai dengan peyakitnya

08:00
Ø Memberikan asupan diet makanan dan cairan yang seimbang melalui oral


08 : 20
Ø Memberikan terapi cairan sesuai dengan indikasi, normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dekstrosa

08 : 45
Ø Memantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan



09 :00
Ø Memberikan informasi yang tepat kepada keluarga tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.



S :  Pasien tidak mau makan

O : lemah

A : Nutrisi teratasi

P: Rencana tindakan dihentikan
2
20/11/2014
Intoleransi aktivitas b.d kelemahan muskuloskeletal


Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan Pasien akan beradaptasi terhadap keletihan yang dibuktikan dengan konsentrasi, penghematan energi, ketahanan, dan status nutrisi: energi
Kriteria Hasil :
Ø Pasien akan menunjukkan tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas
Ø Pasien dapat mempertahankan nutrisi yang adekuat
Ø Pasien akan menunjukkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat
Ø Pasien dapat menggunakan tehnik penghematan energy
Ø Pasien dapat menunjukkan adaptasi gaya hidup dengan tingkat energi
Ø  Ajarkan kepada pasien/keluarga untuk pengaturan aktivitas dan tehnik mengatur waktu untuk mencegah keletihan

Ø  Kolaborasi dengan mengkonsultasikan dengan ahli gizi tentang cara untuk meningkatkan asupan makanan yang berenergi tinggi


Ø  Bantu aktivitas kehidupan sehari-hari sesuai dengan kebutuhan

Ø  Tingkatkan tirah baring/pembatasan aktivitas


Ø  Pantau asupan nutrisi untuk menjamin keadekuatan sumber energy

Ø  Beri edukasi kepada pasien/keluarga dengan menjelaskan hubungan antara keletihan dan proses/kondisi penyakit

Ø mengajarkan pasien/keluarga dalam tehnik penghematan energi untuk mengurangi keletihan







Ø asupan makanan yang berenergi tinggi dapat membantu mengurangi keletihan yang dirasakan pasien










Ø untuk memudahkan pasien dalam melakukan aktivitasnya


Ø tirah baring merupakan tehnik penghematan energi



Ø asupan nutrisi yang adekuat dapat membantu menambah energi untuk mengurangi keletihan



Ø Meningkatkan pengetahuan pasien/keluarga mengenai efek peyakitnya

10: 00
Ø  Mengajarkan kepada pasien/keluarga untuk pengaturan aktivitas dan tehnik mengatur waktu untuk mencegah keletihan

12:30
Ø  Berkolaborasi dengan mengkonsultasikan dengan ahli gizi tentang cara untuk meningkatkan asupan makanan yang berenergi tinggi

Ø  Membantu aktivitas kehidupan sehari-hari sesuai dengan kebutuhan

15:00
Ø  Meningkatkan tirah baring/pembatasan aktivitas
Ø  Memantau asupan nutrisi untuk menjamin keadekuatan sumber energy
16.00
Ø  Memberi edukasi kepada pasien/keluarga dengan menjelaskan hubungan antara keletihan dan proses/kondisi penyakit
S : -

O : kelemahan

A : intoleransi aktivitas teratasi

P: Rencana tindakan dihentikan
3
21/11/2014
Resiko cidera b.d penurunan kesadaran
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan Tidak terjadi cidera
Kriteria Hasil :
Ø  Pasien dapat mengikuti strategi pengendalian risiko
Ø  Pasien/keluarga dapat mempersiapkan lingkungan yang aman
Ø  Pasien/keluarga dapat mengidentifikasi risiko yang meningkatkan kerentanan terhadap cedera
Ø Ciptakan lingkungan yang aman bagi klien,

Ø pidahkan perabotan yang dapat membahayakan klien

Ø Pasang pengaman pada sisi tempat tidur klien dan turunkan tinggi tempat tidur klien

Ø Berikan penerangan yang adekuat

Ø Bantu klien dalam ambulasi

Ø  Menguangi resiko cidera


Ø  Mengamankan klien saat berada di tempat tidur


Ø  Mengurangi resiko cidera




Ø  Mengurangi resiko cidera

Ø  Mengurangi resiko cidera

08:00
Ø Menciptakan lingkungan yang aman bagi klien,

Ø Memindahkan perabotan yang dapat membahayakan klien

08:30
Ø Memasang pengaman pada sisi tempat tidur klien dan turunkan tinggi tempat tidur klien
Ø Memberikan penerangan yang adekuat

Ø Membantu klien dalam ambulasi

S : -

O : lemas

A : penurunan kesadaran sudah teratasi

P: Rencana tindakan dihentikan


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah Hipoglikemia merupakan salah satu kegawatan diabetic yang mengancam, sebagai akibat dari menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dl. Tanda dan gejala hipoglikemia terdiri dari Fase I,gejala –gejala akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus sehingga hormon epinefrin di lepaskan.Gejala awal ini merupakan peringatan karna saat itu pasien masih sadar sehingga dapat di ambil tindakan yang perlu untuk mengatasi hipoglikemia lanjut.Fase II,gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak , karna itu dinamakan gejala neurologis.
Pengkajian khusus paha hipoglikemia adalah Airway: Tidak ada gangguan; Breathing: Merasa kekurangan oksige dan napas tersengal-sengal dan Circulation: Kebas,kesemutan di bagian ekstremitas,keringat dingin,hipotermi, dan penurunan kesadaran

B. Saran
Untuk memudahkan pemberian tindakan keperawatan dalam keadaan darurat secara cepat dan tepat, mungkin perlu dilakukan prosedur tetap/protokol yang dapat digunakan setiap hari. Bila memungkinkan , sangat tepat apabila pada setiap unit keperawatan di lengkapi dengan buku-buku yang di perlukan baik untuk perawat maupun untuk klien.




DAFTAR PUSTAKA
NANDA International. 2012. Nurses Diagnosis : Definition and Classification 2012-2014. Jakarta : ECG
Lynda dan Carpenito. 2008 . Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice. Jakarta: ECG
Keperawatan Unair. t.t. Manual Prosedur Tatalaksana Hipoglikemia dan Hiperglikemia (Online). (http://ners.unair.ac.id/materikuliah.ners.php, diakses pada hari Minggu, 5 Oktober 2012, pukul 11.00 WIB)
Carpenito (1997), L.J Nursing Diagnosis, Lippincott , New Yor
Marino (1991), ICU Book, Lea & Febiger, London

Nelson (1993), Ilmu Kesehatan Anak, EGC, Jakarta

Suparman (1988), Ilmu Penyakit Dalam , Universitas Indonesia, Jakarta.

Wong and Whaley (1996) Peiatric Nursing ; Clinical Manual, Morsby, Philadelpia

Waspadji S. Kegawatan pada diabetes melitus. Dalam: Prosiding simposium: penatalaksanaan kedaruratan di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2000. hal.83-4






 

© 2013 BLOG WENDY GOXIL. All rights resevered. Designed by Templateism | Blogger Templates

Back To Top